Krisis Misil Kuba tahun 1962 terjadi sesudah Washington mengerahkan misil-misil di Turki. Uni Soviet saat tersebut merespons dengan menanam rudal balistik di Kuba, yang melulu berjarak sejumlah mil dari garis pantai Amerika Serikat.
Ryabkov menuliskan Gedung Putih, Pentagon dan sekretariat internasional NATO mengaku bahwa AS dan aliansi tidak mempunyai rencana untuk memakai sistem misil masa mendatang di Eropa. Namun, dia menuliskan bahwa rencana tersebut dapat diolah dengan mudah.
“Kita mesti bersiap guna skenario terburuk. Tidak terdapat rencana, namun peluncur Mk-41 ialah kenyataan. Niat NATO sudah agresif sekitar ini dan mereka masih demikian," kecam Ryabkov, laksana dikutip dari kantor berita TASS, Kamis (27/6/2019).
NATO dan AS, kata dia, mesti menyadari bahwa situasinya bisa memperburuk secara maksimal. "Kita mungkin mengejar diri anda berada dalam kondisi krisis rudal yang lumayan dekat dengan krisis Karibia," ujarnya.
Lebih lanjut Ryabkov menuliskan Rusia siap guna merespons setiap tahapan yang dapat dipungut NATO. Pernyataan ini sebagai tanggapan terhadap NATO yang menakut-nakuti akan beraksi jika Moskow tidak menghancurkan sistem rudal jelajah nuklir SSC-8. Sistem rudal itu dirasakan melanggar Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) 1987.
Pada Oktober 2018, pemerintahan Trump memberitahukan rencananya untuk unik diri dari Perjanjian INF 1987 dengan Rusia. Langkah Washington merangsang kritik sebab berpotensi menimbulkan perlombaan senjata nuklir di Eropa.
Direktur kepandaian pelucutan senjata dan pengurangan ancaman di Arms Control Association, Kingston Reif menuliskan ada risiko kompetisi rudal baru di Eropa andai tak terdapat Perjanjian INF. Reif menuliskan AS tidak mempunyai rencana yang pantas untuk menangkal Rusia mengejar keterampilan tambahan guna senjatanya.







0 comments:
Post a Comment