Thursday, June 27, 2019

Cuaca Ekstrem Mengancam Beberapa Kawasan di Dunia





LONDON - Cuaca fanatik melanda Eropa. Tiga hari sebelum menginjak musim panas, gelombang panas dengan rata-rata suhu 40 derajat Celsius menerjang benua biru tersebut. Kondisi ini tidak pernah terjadi semenjak 1500.

Kondisi demikian adalahbagian dari evolusi yang terjadi semenjak 50 tahun silam sebagai akibat perubahan suhu global. Suhu rata-rata global meningkat dampak konsentrasi gas lokasi tinggal kaca, laksana pembakaran batu bara dan minyak. Suhu dari Prancis sampai Swiss diduga akan meningkat paling tajam.

Sampai kemarin, suhu di Kota Paris dan Lyon telah menjangkau 34 derajat Celsius, adapun di Ebro-Guadiana menjangkau 42 derajat Celsius. Dengan suhu yang lebih panas, lapisan es di Greenland sekarang meleleh dan Australia merasakan kekeringan terjelek di sepanjang sejarah. Profesor Stefan Rahmstorft dari Univer sitas Jerman mengidentifikasikan suhu dengan rekor fanatik di Eropa melulu tercatat pada 2002, 2003, 2010, 2016, dan 2018.


“Musim panas terpanas di Eropa melulu terjadi saat me masuki abad ke-20,” ujar Rahmstorft, di kutip CNN.

Cuaca fanatik juga melanda Tanah Air. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan, sebanyak wilayah di Tanah Air merasakan kekeringan panjang. Di sisi lain, sejumlah wilayah di Jawa dan Nusa Tenggara merasakan suhu dingin yang lumayan ekstrem.

Bahkan, tempat laksana Gunung Dieng dan Gunung Bromo diselimuti embun es. Menghadapi suhu fanatik tersebut, khususnya terhadap akibat kekeringan, BNPB melewati Kepala Bidang Humas Rita Rosita S sudah mengingatkan pemerintah wilayah untuk mengantisipasi supaya jangan hingga masyarakat terdampak situasi tersebut.

Antisipasi urgen dilaksanakan mengingat musim kemarau yang dilangsungkan sejak Mei ini ditebak akan dilangsungkan hingga Agustus 2019. “BNPB mengimbau pemerintah wilayah untuk mengantisipasi potensi kekeringan dengan penyiapan sumber daya, laksana penyiapan sumber daya, pengawasan ketersediaan air bersih, serta pemenuhan standar minimum air untuk keperluan warga dan fauna ternak,” ujar Rita.

Di Eropa, pemerintah di sebanyak negara mengimbau anak-anak dan orang lanjut usia guna tidak meninggalkan lokasi tinggal serta mengonsumsi air minum guna menghindari dehidrasi. Adapun pemerintah Prancis memungut tindakan khusus. Selain meluangkan ruangan dingin, pemerintah Prancis pun membuka empang renang dan air minum.

“Saya cemas dengan masyarakat yang memandang remeh persoalan ini dengan memforsir kekuatan jasmani dan sedang di luar rumah,” ujar Menteri Kesehatan Prancis Agnes Buzyn.Pemerintah Italia, Jerman, Swiss, dan Spanyol juga lumayan waspada dengan situasi ini. Pemerintah Italia merencanakan penunjukan dokter militer untuk menolong pasien di lokasi tinggal sakit. Suhu di semua kota di Italia, tergolong Roma, Florence, Bologna, Milan, dan Turin, diduga mencapai 37-40 derajat Celsius. Rekor suhu 38,2 derajat Celsius di Frankfurt, Jerman pada 1947 pun kemungkinan besar bakal pecah bulan ini dengan rekor baru 39-40 de rajat Celsius.

Negara Skandi navia yang familiar dingin pun dipre - d iksi bakal terdampak. Sebagian distrik Denmark dan Swedia di perkirakan bakal mempunyai suhu 35 derajat Celsius. Negara di Asia pun tidak terbebas dari cuaca ekstrem.

Sedikitnya 184 orang tewas di India tahun ini dampak gelombang panas. Suhu rata-rata di mayoritas wilayah India mendahului 40 derajat Celsius dalam 32 hari terakhir. Pemerintah lokal tidak mengizinkan adanya kegiatan konstruksi dan kegiatan lainnya antara pukul 11.00-16.00. Suhu tertinggi di India ketika ini menjangkau 45,2 derajat Celsius atau naik selama 7 derajat Celsius dibanding tahun lalu.

Ratusan orang jatuh sakit dan mesti dirawat. Pada 2015, gelombang panas pun menerpa India dan Pakistan sampai menewaskan 3.500 orang.

Musim hujan di India pun merasakan keterlambatan 11 hari. Australia pun dilanda musim kemarau terburuk. Meski bukan yang terpanjang, musim kemarau tahun ini menjadi yang terpanas. Sejak 2012, peternakan kambing, lahan perkebunan dan pertanian, serta tumbuhan bobrok parah.

Produksi pertanian Australia diduga akan menurun selama 23% tahun ini. Di belahan bumi lainnya, lapisan es di Greenland sudah mencair lebih mula dari biasanya. Fenomena ini tidak terjadi semenjak 1980. Hal tersebut diungkapkan seorang peneliti asal Denmark melewati unggahan foto. “Musim cair es di Greenland pada lazimnya terjadi dari Juni-Agustus, namun kali ini terjadi semenjak April,” katanya.

Kekeringan dan Suhu Dingin
Berdasarkan data Pusdalops BNPB masing-masing hari Minggu (23/6), pukul 08.00 WIB, sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng), JawaTimur (Jatim), dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merasakan kekeringan. Fenomena ini meng akibatkan 100.230 penduduk terpapar akibat kekeringan, dengan rincian di distrik DIY berjumlah 85.000 jiwa (24.166 KK) yang tersebar di 57 desa di Kabupaten Gunung Kidul; Jateng 14.253 (3.984 KK) yang ter sebar di Kecamatan Kewungetan dan Patimuan, Kabupaten Cilacap; dan Jatim 977 (287 KK) di Desa Trosono, Keca matan Parang, Kabupaten Magetan.

Rita memaparkan, menurut analisis dari Pusat Analisis Situasi Siaga Bencana (Pastigana) BNPB, prakiraan mula musim kemarau pada 2019 lazimnya akan terjadi pada Mei, Juni, dan Juli dengan persentase selama 83% dan musim kemarau tahun ini diprakirakan terjadi pada Agustus 2019, dengan pre sentase 53%.

Kemudian, lanjut dia, menurut pertumbuhan per 10 Juni 2019, sejumlah wilayah tanpa hujan dengan kelompok sangat panjang (30-60 hari) di sebagian wilayah di sejumlah provinsi, yakni Banten, Jawa Barat(Jabar), Jateng, Jatim, DIY, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua. Kategori fanatik (lebih dari 60 hari) terjadi di sebagian wilayah Jatim, Bali, dan NTT. Adapun distrik yang teridentifikasi berpotensi merasakan hari tanpa hujan lebih dari 60 hari antara beda Kemulan (Jatim), Sambirenteng (Bali), Wairang, Fatukety, Sulamu, dan Oepoi (NTT).

Sementara itu, suhu dingin menyelimuti dataran tinggi Dieng sejumlah belakangan. Bahkan Senin lalu, suhu menjangkau minus 9 derajat Celsius. Akibatnya, embun es Dieng me nutupi tumbuhan dan perkebunan warga. Cuaca fanatik yang terjadi di Gunung Bromo memunculkan gejala embun es

Oleh masyarakat sekitar, embun es ini dikenal dengan sebutan embun upas. Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) R Mulyono R Prabowo dalam penjelasan tertulisnya (25/6) menuturkan, suhu dingin sebetulnya tidak melulu terjadi di distrik Jawa, tapi pun mencapai Nusa Tenggara.

Penurunan suhu yang terjadi lumayan signifikan sampai mencapai di bawah 15 derajat Celsius. Berdasarkan keterangan dari dia, situasi suhu dingin ini terjadi sebagai dampak dari adanya aliran massa udara dingin dan kering dari distrik Benua Australia, yang dikenal dengan aliran monsun dingin Australia.

Secara klimatologis, Mulyono melanjutkan bahwa monsun dingin Australia aktif pada periode Juni, Juli, sampai Agustus, yang adalahperiode puncak musim kemarau di distrik Indonesia bagian unsur selatan ekuator.

“Desakan aliran udara kering dan dingin dari Australia ini menyebabkan situasi udara yang relatif lebih dingin, khususnya pada malam hari dan dapat dialami lebih signifikan di distrik dataran tinggi atau pegunungan,” beber Mulyono.

Di samping itu, situasi musim kemarau dengan cuaca terang membuat atmosfer dengan tutupan awan sedikit di dekat wilayah Jawa-Nusa Tenggara bisa memaksimalkan bersitan panas bumi ke atmosfer pada malam hari, sampai-sampai suhu permukaan bumi bakal lebih rendah dan menjadi lebih dingin daripada biasanya.Kondisi itu sangat berbeda saat musim hujan atau pergantian (pancaroba), yang seringkali suhu pada malam hari bakal menjadi lebih panas sebab uap air di atmosfer cukup tidak sedikit karena tidak sedikit nya perkembangan awan sampai-sampai terjadinya atmosfer semacam “reservoir panas”.

Berdasarkan data pengamat an BMKG, sekitar sepekan ini suhu udara lebih rendah dari 15derajatCelsiusdapatditemui di distrik Frans Sales Lega (NTT) dan Treters (Pasuruan). Pada distrik Frans Sales Lega, suhu udara sempat hingga 9,2 derajat Celsius pada 15 Juni 2019. Kondisi serupa pun terjadi sampai Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah) ataupun wilayah pegunungan lainnya yang menikmati dampaknya.

0 comments:

Post a Comment