Thursday, June 27, 2019

Rudal Jelajah Nuklir SSC-8-nya Diancam NATO, Rusia Siap Balas




MOSKOW - Moskow mengaku siap memungut tindakan pembalasan militer sesudah NATO menciptakan ancaman terhadap sistem rudal jelajah nuklir Rusia.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada hari Selasa menuliskan Rusia mesti menghancurkan sistem rudal jelajah berkemampuan nuklir yang dikenal dengan nama SSC-8 atau 9M729. Dia menakut-nakuti akan merespons sistem rudal tersebut andai tidak dihancurkan. Stoltenberg tak merici apa yang akan dilaksanakan aliansi itu.

Dia menuliskan para menteri pertahanan anggota NATO kini mempertimbangkan langkah-langkah selanjutnya andai Rusia melalaikan seruannya.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menuliskan komentar NATO berbau propaganda. Menurutnya, aliansi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) tersebut salah dengan mengumbar ancamannya sebagai tanggapan militer dan politik terhadap perbuatan Rusia.

Ryabkov melanjutkan Rusia bakal menanggapi perbuatan pembalasan militer apa juga dari aliansi 29 negara itu.

"Ketika ancaman ini mulai terwujud menjadi perbuatan nyata, kami mesti memungut langkah-langkah militer yang berlawanan," katanya pada hari Rabu, seperti dikutip dari kantor berita TASS, Kamis (27/6/2019).

Awal tahun ini, AS memberitahukan akan terbit dari Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) 1987 yang sudah dijaga dengan Rusia selama sejumlah dekade andai Moskow tidak menghancurkan rudal SSC-8. Misil itu dirasakan melanggar Perjanjian INF dan menjadi ancaman untuk negara-negara NATO yang dekat dengan Rusia.

Perjanjian INF 1987 mempercayakan penghancuran rudal nuklir dan konvensional yang memiliki cakupan 310-620 mil guna misil jarak pendek dan 620-3.420 mil guna misil jarak menengah. Tak melulu misil, perjanjian tersebut juga mempercayakan peluncur rudal bersangkutan.

Rusia telah diserahkan waktu sampai akhir Agustus guna menghancurkan sistem rudal SSC-8 dan mengamankan Perjanjian INF.

0 comments:

Post a Comment